Sukses
Terbesar Dalam Hidupku
Lulus dalam menempuh
pendidikan di tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA) adalah sesuatu yang sangat
melegakan setelah berjibaku dengan begitu banyak materi pelajaran baik yang
disukai ataupun sebaliknya. Akan tetapi fase ini juga yang menandai awal yang
baru dalam hidup saya.
Tahun 2008 semuanya
dimulai, pada saat itu saya memberanikan diri untuk mendaftarkan diri di
Universitas Negeri Gorontalo. Masih teringat jelas semuanya berlangsung dengan
kondisi keuangan keluarga yang tidak mendukung, namun itu tidak saya jadikan alasan
untuk meraih impian masa depan. Singkat cerita saya diterima untuk melanjutkan pendidikan
ke bangku kuliah di Jurusan pendidikan Bahasa Inggris sesuai harapan. Inilah
yang menjadi awal titik balik atau transisi mindset
yang saya rasakan.
Lingkungan kampus ternyata
didisi oleh putra-putra terbaik bukan hanya berasal dari daerah Gorontalo, akan
tetapi cukup banyak juga yang berasal dari daerah lain seperti Sulawesi utara,
Sulawesi tengah, bahkan ada yang datang jauh-jauh dari papua. Fenomena ini
membuka mata saya akan beragamnya suku di Indonesia dan pentingnya untuk saling
menghargai satu sama lain, bahkan yang lebih membuat saya tercengang yaitu
perjuangan mereka ternyata jauh lebih berat. Tinggal jauh dari orang tua, harus menyesuaikan
dengan lingkungan baru, sampai kondisi keuangan keluarga ternyata ada yang
lebih menyedihkan. Saya pun berujar didalam hati bahwa saya tidak akan kalah
dengan perjuangan mereka.
Tumbuh besar di lingkungan
yang jauh dari perkotaan ternyata membawa dampak positif, karena mindset yang tumbuh dalam fikiran saya
adalah hidup itu harus bersosialisasi dengan orang-orang sekitar kita. Hal
inilah yang membuat saya dengan mudah bisa mendapatkan banyak teman baru tidak
hanya dari Gorontalo tapi juga dari daerah lain. Karena rasa solidaritas yang
tinggi tidak jarang saya berani untuk menyuarakan aspirasi teman-teman tentang
masalah-masalah seperti mata kuliah yang sulit, pemerataan pemberian
beasiswa, sampai dosen-dosen yang KUDIS
(Kurang Displin) kepada pihak Jurusan. Hingga pada suatu saat mereka
mempercayakan kepada saya untuk menjadi ketua Himpunan Mahasiswa Jurusan Bahasa
Inggris tepatnya pada tahun 2010, ini kali pertama saya menjadi seorang ketua
dan mengemban tanggung jawab yang besar. Fase ini juga tanpa disadari menjadi
tahap character building bagi saya
karena dapat mengembangkan skill yang
tidak didapat dari bangku kuliah seperti public
speaking dalam bahasa Indonesia, leadership,
dan management, serta yang paling
penting lagi adalah saya dapat memahami betapa indahnya rasa brotherhood (persaudaraan) diantara
sesama teman sejawat walaupun tidak diikat oleh hubungan darah.
Eksistensi dalam
organisasi membawa banyak pengaruh positif, salah satunya yaitu pihak Jurusan
memasukkan nama saya sebagai penerima beasiswa sampai dengan akhir studi. Berkat hal ini, saya mampu untuk membayar
biaya kuliah dan skripsi tanpa membebani orang tua.
Selain itu organisasi juga membuat saya
bisa mengenal mahasiswa-mahasiswa senior yang sudah berprestasi di level
nasional bahkan internasional. Mereka sangat menginspirasi untuk bisa
berprestasi dan memberikan sesuatu bagi bangsa ini atau setidaknya bagi daerah
saya. Sampai pada suatu saat saya ditunjuk oleh pihak kampus untuk mengikuti
seleksi pemilihan Duta Bahasa tingkat provinsi yang diselenggarakan oleh Kantor
Bahasa Provinsi Gorontalo. Pada akhirnya saya terpilih sebagai Duta Bahasa
provinsi Gorontalo tahun 2010 , ini adalah awal kiprah prestasi di level provinsi dan Nasional. Setahun
berselang, Kantor Bahasa kembali menunjuk saya untuk menjadi anggota kontingen
Provinsi Gorontalo untuk kegiatan Jambore Bahasa dan Sastra (JAMBASTRA) yang
diikuti oleh semua Provinsi di Indonesia.
Keaktifan di organisasi dan kegiatan diluar
kampus bagi sebagian mahasiswa membuat aspek akademik mereka terabaikan,
dampaknya adalah indeks prestasi yang menurun. Beruntung hal ini tidak terjadi
kepada saya karena mahasiswa yang sukses itu adalah ketika dia bisa
menyeimbangkan antara organisasi dan akademik. Alhasil, saya pun mampu
menyelesaikan kuliah dengan status sebagai salah satu wisudawan dengan IPK
tertinggi dan sederet prestasi.
Pada akhirnya saya
menyadari bahwa lingkungan kampus benar-benar mengubah pola fikir saya menjadi seorang yang visioner dan untuk menjadi agent of change. Saya juga ingin mengatakan bahwa pendidikan bukan
milik orang yang bermateri akan tetapi milik orang-orang yang berusaha untuk
meraihnya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar