Selasa, 30 Agustus 2016

Sukses Terbesar Dalam Hidupku

Lulus dalam menempuh pendidikan di tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA) adalah sesuatu yang sangat melegakan setelah berjibaku dengan begitu banyak materi pelajaran baik yang disukai ataupun sebaliknya. Akan tetapi fase ini juga yang menandai awal yang baru dalam hidup saya.
Tahun 2008 semuanya dimulai, pada saat itu saya memberanikan diri untuk mendaftarkan diri di Universitas Negeri Gorontalo. Masih teringat jelas semuanya berlangsung dengan kondisi keuangan keluarga yang tidak mendukung, namun itu tidak saya jadikan alasan untuk meraih impian masa depan. Singkat cerita saya diterima untuk melanjutkan pendidikan ke bangku kuliah di Jurusan pendidikan Bahasa Inggris sesuai harapan. Inilah yang menjadi awal titik balik atau transisi mindset yang saya rasakan.
Lingkungan kampus ternyata didisi oleh putra-putra terbaik bukan hanya berasal dari daerah Gorontalo, akan tetapi cukup banyak juga yang berasal dari daerah lain seperti Sulawesi utara, Sulawesi tengah, bahkan ada yang datang jauh-jauh dari papua. Fenomena ini membuka mata saya akan beragamnya suku di Indonesia dan pentingnya untuk saling menghargai satu sama lain, bahkan yang lebih membuat saya tercengang yaitu perjuangan mereka ternyata jauh lebih berat. Tinggal  jauh dari orang tua, harus menyesuaikan dengan lingkungan baru, sampai kondisi keuangan keluarga ternyata ada yang lebih menyedihkan. Saya pun berujar didalam hati bahwa saya tidak akan kalah dengan perjuangan mereka.
Tumbuh besar di lingkungan yang jauh dari perkotaan ternyata membawa dampak positif, karena mindset yang tumbuh dalam fikiran saya adalah hidup itu harus bersosialisasi dengan orang-orang sekitar kita. Hal inilah yang membuat saya dengan mudah bisa mendapatkan banyak teman baru tidak hanya dari Gorontalo tapi juga dari daerah lain. Karena rasa solidaritas yang tinggi tidak jarang saya berani untuk menyuarakan aspirasi teman-teman tentang masalah-masalah seperti mata kuliah yang sulit, pemerataan pemberian beasiswa,  sampai dosen-dosen yang KUDIS (Kurang Displin) kepada pihak Jurusan. Hingga pada suatu saat mereka mempercayakan kepada saya untuk menjadi ketua Himpunan Mahasiswa Jurusan Bahasa Inggris tepatnya pada tahun 2010, ini kali pertama saya menjadi seorang ketua dan mengemban tanggung jawab yang besar. Fase ini juga tanpa disadari menjadi tahap character building bagi saya karena dapat mengembangkan skill yang tidak didapat dari bangku kuliah seperti public speaking dalam bahasa Indonesia, leadership, dan management, serta yang paling penting lagi adalah saya dapat memahami betapa indahnya rasa brotherhood (persaudaraan) diantara sesama teman sejawat walaupun tidak diikat oleh hubungan darah.
Eksistensi dalam organisasi membawa banyak pengaruh positif, salah satunya yaitu pihak Jurusan memasukkan nama saya sebagai penerima beasiswa sampai dengan akhir studi.  Berkat hal ini, saya mampu untuk membayar biaya kuliah dan skripsi tanpa membebani orang tua.
        Selain itu organisasi juga membuat saya bisa mengenal mahasiswa-mahasiswa senior yang sudah berprestasi di level nasional bahkan internasional. Mereka sangat menginspirasi untuk bisa berprestasi dan memberikan sesuatu bagi bangsa ini atau setidaknya bagi daerah saya. Sampai pada suatu saat saya ditunjuk oleh pihak kampus untuk mengikuti seleksi pemilihan Duta Bahasa tingkat provinsi yang diselenggarakan oleh Kantor Bahasa Provinsi Gorontalo. Pada akhirnya saya terpilih sebagai Duta Bahasa provinsi Gorontalo tahun 2010 , ini adalah awal kiprah prestasi  di level provinsi dan Nasional. Setahun berselang, Kantor Bahasa kembali menunjuk saya untuk menjadi anggota kontingen Provinsi Gorontalo untuk kegiatan Jambore Bahasa dan Sastra (JAMBASTRA) yang diikuti oleh semua Provinsi di Indonesia.
        Keaktifan di organisasi dan kegiatan diluar kampus bagi sebagian mahasiswa membuat aspek akademik mereka terabaikan, dampaknya adalah indeks prestasi yang menurun. Beruntung hal ini tidak terjadi kepada saya karena mahasiswa yang sukses itu adalah ketika dia bisa menyeimbangkan antara organisasi dan akademik. Alhasil, saya pun mampu menyelesaikan kuliah dengan status sebagai salah satu wisudawan dengan IPK tertinggi dan sederet prestasi.
Pada akhirnya saya menyadari bahwa lingkungan kampus benar-benar mengubah pola fikir saya menjadi seorang yang visioner dan untuk menjadi agent of change. Saya juga ingin mengatakan bahwa pendidikan bukan milik orang yang bermateri akan tetapi milik orang-orang yang berusaha untuk meraihnya.




 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar